MENATA RUANG KANTOR SECARA ERGONOMIS DAN
DAMPAK RUANG KANTOR YANG TIDAK ERGONOMIS
Oleh :
Anisa
Jurusan
Administrasi Niaga, Program Studi D3 Administrasi Bisnis 2a
Politeknik
Negeri Bandung
Dosen
Pembimbing :
Dra.
Sholihati Amalia, S.Sos., M.Pd
Abstrak
In
an organization , the employee is an asset that is important because employee
productivity is a driving factor for the organization, so the organization can
achieve its objectives . Ergonomic the study of relationship of employees to
their physical environment, is helpful in designing an effective environment to
be able to work optimally , the employee need comfortable room. Light, air ,
color and sound is one component that could affect the office environment .
Ergonomic
is the one important thing in the office, because it is can be design a good
environment, and make the employee get motivation. But, if the office and the
employee still careless with office ergonomic, There are some condition that will give effect
to the employee. The employee can be hurt in some part of bodu, employees can
experience fatigue continuously over a long period, spinal cord injury, to
osteoporosis.
1.1 Definisi Kantor
Menurut
Paul Mahieu Kantor adalah tempat dalam suatu badan usaha dimana dilaksanakan
pekerjaan administratif (tata usaha) yang dapat dilakukan dengan mesin atau
tangan. (The Liang Gie 105).
Sedangkan
Menurut Glen W. Howard kantor adalah pusat dari kegiatan administrasi (tata
usaha) dan berperan sebagai suatu kamar kerja dan belajar, suatu ruang rapat,
suatu tempat perundingan, suatu pusat penerangan,suatu pusat pemberian
pelayanan, suatu kamar untuk berkas-berkas, suatu ruang perjamuan dan
seringkali suatu lambang darikedudukan. (The Liang Gie 105).
Dari
kedua definisi tersebut, dijelaskan bahwa kantor merupakan suatu tempat untuk mengerjakan
pekerjaan tata usaha.
Pekerjaan
tata usaha merupakan pekerjaan yang rutin dilaksanakan dalam suatu organisasi.
Setiap hari para administrator, pegawai tata usaha mengerjakan pekerjaan
tersebut berulang-ulang, sementara banyak sekali aspek keselamatan yang
terabaikan dikarenakan kurangnya pengetahuan akan cara bekerja yang baik untuk
kesehatan. Oleh karena itu diperlukan disiplin ilmu yang membahas tentang
cara-cara untuk bekerja dengan berdasarkan prinsip kesehatan dan keselamatan
pegawai, yaitu office ergonomic.
1.2 Ergonomi
Istilah
ergonomi berasal dari bahasa latin yaitu ergon (kerja) dan nomos (hukum
alam) sehingga
dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam
lingkungan
kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering,
manajemen dan
desain/perancangan (Pile, John F. 1978).
Dalam
perkembangannya, Istilah ergonomi berasal dari bahasa Latin yaitu ergon (kerja)
dan nomos (hukum alam) dan dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek -
aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi,
fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain perancangan.
Hal-hal
penting lainnya yang tercakup dalam office ergonomi adalah optimasi, efisiensi,
kesehatan, keselamatan dan kenyamanan manusia di tempat kerja. Di dalam
ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem dimana manusia, fasilitas kerja dan
lingkungannya saling berinteraksi dengan tujuan utama yaitu menyesuaikan
suasana kerja dengan manusianya (Nurmianto, 2004).
Salah
satu ahli yang membahas ergonomi adalah Quible, dalam bukunya ia mengatakan “Ergonomic
the study of relationship of employees to their physical environment, is
helpful in designing an effective environment” (Quible, 1984: 122)
Ergonomi
membahas bagaimana hubungan antara pewagai dengan lingkungan fisik dapat
mempengaruhi dan menciptakan lingkungan yang efektif untuk bekerja. Seperti
kita ketahui bahwa pegawai akan merasa nyaman apabila perabotan, perlengkapan
dan layout kantor ditata sedemikian rupa sehingga dapat memberikan kenyamanan
dan keleluasaan dalam bekerja sehingga timbulah kecintaan akan pekerjaan yang
dilaksanakannya.
Kemudian,
Kallaus dan Keeling menyatakan bahwa ergonomic is the science that explains the
relationship of workers to the physiological and psychological factor in their
environment (1987:403-404). Ergonomi berhubungan juga dengan ilmu sains dan
faktor psikologi yang mempengaruhi lingkungan bekerja.
Dan
menurut Suma’mur (1988) menyatakan bahwa ergonomi itu dimaksudkan untuk
mencapai produktivitas dan efisiensi setinggi-tingginya melalui pemanfaatan
faktor manusia seoptimal-optimalnya.
1.3 Peranan Penting Office Ergonomic
Organisasi
memerlukan pencapaian tujuan yang sebaik-baiknya agar tetap dapat bertahan dan
kelangsungan hidupnya terjaga, oleh karena itu produktivitas pegawai menjadi
faktor penting yang perlu diperhatikan. Dengan meningkatnya produktivitas
pegawai, perusahaan dapat mencapai tujuan, menjalankan misi dan memperoleh
profit, yang meningkatkan eksistensi organisasi, bahkan meningkatnya
penghasilan didalam negeri.
Hal
inilah yang menjadi dasar bahwasannya ergonomi sangatlah penting, karena dapat
meningkatkan produktivitas dan semangat kerja karyawan. Adapun peranan penting
lainnya yang dapat diperoleh apabila sebuah kantor telah menerapkan office
ergonomic tercantum dalam sebuah buku yang mengatakan, Nurmianto (2004),
peranan penerapan ergonomi antara lain :
a. Aktivitas rancang bangun (desain) ataupun
rancang ulang (re-desain). Hal-hal yang dimaksud dengan suatu aktivitas rancang
bangun misalnya perkakas kerja (tools), bangku kerja (benches), platform,
kursi, pegangan alat kerja (workholders), sistem pengendali (controls), alat
peraga (displays), jalan/lorong (access ways), pintu (doors), jendela (windows)
dan lain – lain.
b. Desain pekerjaan pada suatu organisasi. Contohnya,
menentukan jumlah jam istirahat, pemilihan jadwal pergantian waktu kerja (shift
kerja).
c. Meningkatkan faktor keselamatan dan
kesehatan pegawai dalam bekerja. Contohnya, mendesain suatu sistem kerja untuk
mengurangi rasa nyeri dan ngilu pada sistem kerangka dan otot manusia, desain
stasiun kerja untuk alat peraga visual (visual display unit station).
Hal ini
dapat mengurangi ketidaknyamanan visual dan postur kerja, desain suatu perkakas
kerja (handtools) untuk mengurangi kelelahan kerja, desain suatu peletakan 1
instrumen dan sistem pengendalian agar didapat optimasi dalam proses transfer
informasi dan lain – lain.
1.4 Sasaran Ergonomi
Sasaran
dari ergonomi yaitu meningkatkan para pengguna agar dapat mencapai prestasi
kerja yang tinggi dalam kondisi yang nyaman, aman dan tenteram. Adapun lingkup
kajian ergonomi dapat dikelompokkan dalam 4 bidang lingkup kajian, yaitu
1. Display.
Display
adalah alat yang menyajikan informasi tentang lingkungan yang dikomunikasikan
dalam bentuk tanda-tanda atau lambang-lambang.
Display terbagi menjadi 2 bagian, yaitu display statis dan display
dinamis.
Display
statis adalah display yang memberikan informasi tanpa dipengaruhi oleh variabel
waktu, misalnya peta, papan pengumuman.
Sedangkan display dinamis adalah display yang dipengaruhi oleh variabel
waktu, misalnya speedometer yang memberikan informasi kecepatan kendaraan
bermotor dalam setiap kondisi.
2. Kekuatan fisik manusia (Fisiologi).
Penelitian
ini mencakup mengukur kekuatan/daya fisik manusia ketika bekerja dan
mempelajari bagaimana cara kerja serta peralatan harus dirancang agar sesuai
dengan kemampuan fisik manusia ketika melakukan aktifitas tersebut. Penelitian
ini merupakan bagian dari biomekanik.
3. Ukuran/dimensi dari tempat kerja
(antropometri).
Penelitian
ini diarahkan untuk mendapatkan ukuran tempat kerja yang sesuai dengan ukuran
tubuh manusia, dipelajari dalam antropometri.
4. Lingkungan fisik.
Penelitian
ini berkenaan dengan perancangan kondisi lingkungan fisik dari ruangan dan
fasilitas-fasilitas dimana manusia bekerja. Hal ini meliputi perancangan
cahaya, suara, warna, temperatur, kelembaban, bau-bauan dan getaran pada suatu
fasilitas kerja.
Misalnya
dalam perancangan produk suatu Handphone. Dengan memperhatikan faktor-faktor
ergonomi maka hasil perancangan akan mengarah kepada kenyamanan dalam
menggunakannya. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam perancangan
handphone agar ergonomi yaitu:
1. Penggunaan display layar, warna keypad,
warna handphone sehingga memudahkan pembacaan dan tidak melelahkan mata.
2. Perancangan dimensi handphone sehingga
ukuran menyesuaikan dengan ukuran standar manusia.
3. Perancangan berat handphone sehingga
tidak melelahkan manusia saat dibawa.
4. Desain ukuran keypad sehingga
memudahkan jari-jari kita untuk navigasi.
5. Penggunaan sistem operasi yang ada
didalamnya sehingga memudahkan orang dalam menggunakannya.
Penerapan
ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas desain ataupun redesain. Ergonomi
dapat berperan pula dalam desain pekerjaan pada suatu organisasi misalnya:
penentuan jumlah jam istirahat, pemilihan jadwal pergantian waktu kerja (shift
kerja) dan meningkatkan variasi pekerjaan.
Agar
dapat menghasilkan rancangan sistem kerja yang baik perlu dikenal sifat-sifat,
keterbatasan serta kemampuan yang dimiliki manusia. Dalam sistem kerja, manusia berperan sentral
yaitu sebagai perencana, perancang, pelaksana dan pengevaluasi sistem kerja
yang bekerja secara keseluruhan agar diperoleh hasil kerja yang baik atau
memuaskan.
Office
ergonomic juga disebut Human Factors atau Human Engineering (di United
States), bersifat netral, tidak melihat
dari sisi majikan atau dari sisi karyawan. Bukan sebuah philosophy, tetapi
sebagai suatu disiplin ilmu dan teknologi (Karl , 2001: 1).
Ergonomics
dapat membuat objek sederhana seperti penyerut pensil, keyboard atau telepon
menjadi ramah dan mudah digunakan.
Sistem transportasi umum, pabrik, perusahaan—dalam mendisain
lampu-lampu/sistem pencahayaan yang disesuaikan dengan berbagai level atau fungsi dan tanggung jawab pegawai.
Dengan
demikian Egonomi berguna sebagai media pencegahan terhadap kelelahan kerja
sedini mungkin sebelum berakibat kronis dan fatal.
Manusia
sebagai unsur utama di Kantor. Kantor adalah suatu sistem kerja yang sangat
tergantung pada unsur manusia: tanpa manusia, mustahil suatu pekerjaan dapat
dilakukan. Dengan demikian, ergonomi
difokuskan pada manusia sebagai komponen yang paling penting di dalam kantor
dan menyesuaikan kantor dengan orang-orang yang ada di dalamnya.
Perancangan
yang memfokuskan pada manusia ini membutuhkan pengetahuan tentang karakteristik
dari orang-orang di kantor, khususnya tentang dimensi-dimensi mereka, kemampuan
mereka, dan keinginan mereka.
1.5 Disain tempat kerja
Ergonomics
mencakup disain tempat kerja dan pekerjaan yang disesuaikan dengan kebutuhan
fisik dan psykologis penggunanya. Secara
sederhana, adalah menciptakan pekerjaan dan lingkungan untuk membuat orang yang
bekerja di dalamnya menjadi lebih nyaman.
Tujuan dari ergonomics adalah memaksimalkan kualitas waktu kerja dan
meminimalkan terjadinya “cedera otot” dalam kerja.
Komponen
utama dari kantor meliputi meja, kursi
dan peralatan yang digunakan untuk mengerjakan pekerjaan kantor, bahkan lebih
sering lagi komputer.
Pada
waktu mendisain suatu tempat kerja, yang penting adalah untuk mempertimbangkan
tugas-tugas apa yang harus dikerjakan, dan tipe peralatan yang digunakan. Fleksibilitas adalah kunci di dalam mendisain
tempat kerja.
Disain
tempat kerja mempengaruhi posture orang pada waktu dia bekerja. Oleh karena
itu, tempat kerja harus didisain agar orang berada pada posisi yang
memungkinkan dia melakukan pekerjaan dengan nyaman.
Sebuah
penelitian terkini yang dilakukan Singapore General Hospital tentang banyaknya
terjadi “ cedera otot” atau MSD (musculoskeletal disorders) diantara karyawan kantor di Singapore,
ditemukan sebanyak 73% dari 324 respondents melaporkan mengalami rasa nyeri
paling sedikit pada salah satu bagian
tubuh. Bagian tubuh yang paling banyak dilaporkan mengalami nyeri adalah
bagian leher (46%), bahu (42%) dan bahu belakang (42%). MSD lebih banyak
dirasakan oleh wanita (79%) dibandingkan
pria (64%).
Lingkungan
fisik memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap efisiensi perkantoran
maka diperlukan suatu petunjuk yang mampu melakukan identifikasi. Ergonomi
merupakan jawaban untuk menyusun lingkungan kerja yang kondusif.
1.6 Komponen Office Ergonomic
Dalam
mempelajari office ergonomic, terdapat beberapa komponen yang akan mempengaruhi
apakah suatu ruang kantor telah memiliki kriteria ergonomis. Berikut ini
merupakan komponen-komponen dalam office ergonomi : (1) cahaya, (2) udara, (3)
warna, (4) suara
Cahaya
merupakan faktor penting dalam office ergonomic, cahaya yang baik dapat
mempermudah pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ketelitian tinggi. Namun disisi
lain, sistem pencahayaan yang buruk dapat mengakibatkan kerusakkan pada mata
pegawai, kelelahan mata, bahkan perasaan enggan untuk bekerja.
Pencahayaan
yang kurang baik dapat membuat pekerjaan terhambat, karena sulitnya untuk
melihat dan menafsirkan data yang dimiliki Berikut ini merupakan intensitas
cahaya yang cukup untuk berbagai jenis pekerjaan.
Kuantitas
cahaya menunjukkan besarnya kebutuhan penyinaran untuk tiap-tiap jenis
pekerjaan yang diukur dengan satuan footcandle.
Footcandle
merupakan banyaknya cahaya yang dipancarkan dari sebuah lilin ukuran biasa pada
sebuah benda yang jaraknya satu kaki dari lilin itu atau kurang lebih 30,48
centimeter (The Liang Gie, 1998).
Cahaya
sangat penting bagi pekerjaan kantor mengingat aktivitas di dalamnya banyak
menggunakan pikiran dan mata yang luas. Cahaya yang baik harus dapat disiapkan
agar menghasilkan informasi yang memenuhi syarat Cahaya yang baik memenuhi
kebutuhan tuntutan pekerjaan baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Kedua
aspek cahaya ini dapat
Tabel 1
Klasifikasi
Pekerjaan Kantor & Kebutuhan Jumlah Cahaya
|
No
|
Jenis Aktivitas Kantor
|
Footcandle
|
|
1
|
Pekerjaan Dengan Penglihatan Sederhana
|
10-20
|
|
2
|
Pekerjaan Dengan Penglihatan Sepintas
Lalu
|
20-30
|
|
3
|
Pekerjaan Dengan Penglihatan Biasa
|
50-100
|
|
4
|
Pekerjaan Dengan Penglihatan Tajam
|
100-200
|
Sumber : The Liang
Gie, 1998
Komponen
kedua dalam office ergonomic adalah udara. Udara yang sesuai dapat meningkatkan
produktivitas dan kesehatan. Udara dapat mengalami perubahan di setiap bulan.
Beberapa bulan di Indonesia misalnya bulan Maret adalah musim kemarau, sehingga
angin berhembus namun curah hujan tidak begitu tinggi.
Namun,
di musim hujan, kelembaban udara tentunya perlu diperhatikan. Kelembaban udara
yang tinggi dapat meningkatkan kemungkinan pegawai terkena penyakit flu dan
jenis penyakit lainnya. Flu yang menyerang dapat menghambat tugas-tugas dan
tanggung jawab yang dibebankan apabila pegawai tersebut tidak bekerja. Udara
yang baik perlu disesuaikan dengan suhu tubuh manusia, yaitu tidak lebih dari
27 derajat. Dapat dilakukan dengan menjaga sirkulasi udara melalui ventilasi
dan jendela.
Kemudian
pada musim panas dapat digunakan air conditioner untuk menurunkan suhu ruangan,
sehingga cuaca panas tidak akan mengganggu rutinitas.
Kemudian
pada musim hujan, kelembaban udara dapat mencapai 100%. Angka ini cukup tinggi
dan menunjukkan kandungan kadar air yang berada disuatu daerah. Kelembaban
udara berkaitan dengan curah hujan, angin dan cuaca. Oleh karena itu,
diperlukan suatu cara untuk tetap menyesuaikan ruang kantor dengan cuaca yang
terjadi.
Kelembaban
yang tinggi dapat mengakibatkan penyakit yang berasal dari bakteri, tumbuhnya
jamur diruangan kerja. Perabotan yang terbuat dari kayu dapat dengan mudah
berjamur dan menjadi lapuk, dinding-dinding yang terkena rembesan air hujan
akan mengalami kerusakkan.
Tabel 2
Kelembaban Udara
di Indonesia
|
Daerah
|
Bulan
|
|||
|
Jan-Mar
|
Apr – Jun
|
Jul – Sep
|
Okt-Des
|
|
|
Jakarta
|
79,58%
|
77,33%
|
75,08%
|
76,92%
|
|
Jawa Barat
|
85,13%
|
85,23%
|
81, 33%
|
85,10%
|
Sumber : Suma’mur,
1989: 101
Para
pekerja lebih rentan terhadap cedera pada lingkungan yang dingin, karena
sirkulasi yang melambat, dan mengakibatkan otot-otot dan jaringan lain lebih
tegang. Solusi praktis yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan pakaian
berbahan wool yang dapat menjaga kehangatan tubuh. Tidak lupa dianjurkan untuk
melakukan pemanasan seperti pelatihan peregangan sebelum memulai pekerjaan.
Komponen
ketiga dalam office ergonomic adalah warna. Warna dapat mempengaruhi suasana
hati pegawai. Suasana hati yang gembira dan bersemangat dapat membuat para
pegawai dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik, kerjasama dapat terjalin dan
akan timbul komunikasi yang baik antar pegawai maupun dengan atasannya. Warna
seringkali digunakan oleh para desainer interior untuk menimbulkan kesan.
Contohnya, untuk dapur dapat menggunakan warna orange, karena warna orange
dapat meningkatkan nafsu makan. Kemudian untuk perkantoran dapat dilakukan
pemilihan warna yang sesuai.
Warna
hijau dan putih biasanya digunakan oleh perusahaan yang bergerak dibidang
kesehatan dan farmasi, karena dapat memberikan kesan bersih. Kemudian pemilihan
warna hitam sebaiknya tidak digunakan untuk dekorasi ruangan kantor dikarenakan
dapat mengakibatkan kesan seram, tertekan dan gelisah. Kemudian, untuk
kantor-kantor yang memerlukan ide-ide inovatif dan kreatif, maka pemilihan warna
yang terang dan beraneka macam dapat meningkatkan ide kreatif para pegawai.
Tabel 3
Warna dan
Pengaruhnya
|
Warna
|
Sifat
|
Pengaruh
|
Untuk Ruang
|
|
Merah
|
Dinamis,
merangsang
|
Menimbulkan semangat.
|
Pekerjaan sepintas atau singkat
|
|
Kuning
|
Keanggunan, bebas
|
Menimbulkan perasaan gembira dan
merangsang urat syaraf
|
Gang-gang, jalan (lorong)
|
|
Biru
|
Tenang, tentram, sejuk
|
Mengurangi ketekanan/ketegangan
|
Berpikir konsentrasi
|
Sumber : Suma’mur,
1989
Komponen
keempat office ergonomic adalah suara. Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan
kantor terutama di bagian keuangan memerlukan konsentrasi yang tinggi sehingga
diperlukan cara-cara untuk meredam suara. Kemudian, ruangan rapat memerlukan
ketenangan dan terhindar dari kebisingan, karena pada saat rapat, para pemimpin
perusahaan diharuskan untuk mengambil keputusan demi kelancaran organisasinya
maupun meningkatkan omset penjualannya.
Salah
satu cara yang dapat diguanakan untuk meredam kebisingan adalah dengan
menggunakan perabotan berbahan dasar seperti kayu dan tergolong barang yang
berat, memasang dinding peredam kebisingan, memasang karpet pada dinding,
memilih lokasi kantor yang jauh dari kebisingan misalnya kebisingan pasar,
jalan raya dan terminal.
Kebisingan dapat mengakibatkan
terganggunya konsentrasi, ketegangan dan menyebabkan stress, terlebih lagi jika
dialami secara terus menerus. Melemahnya pendengaran dapat mengindikasikan
tingkat kebisingan yang tinggi. Jika kantor anda sangat dekat dengan sumber
bising, maka hal yang perlu dilakukan adalah meredam suara bising tersebut,
dapat dilakukan dengan mengubah struktur bangunan, menggunakan peredam seperti
soft box atau karpet. Namun, adapun hal sederhana yang dapat anda lakukan
sendiri, yaitu dengan menutup pintu ruang kerja, atau menggunakan penyumbat
telinga atau ear plug untuk meredam kebisingan.
Tabel 4
Tingkat Kebisingan
Ruang
|
Decible
|
Office Area
|
|
90
|
Loud Office machines room
|
|
70
|
Noisy office
|
|
50
|
Average office
|
|
30
|
Quiet office
|
|
10
|
Sound proof office
|
Sumber : Quible,
1984: 132
1.7 Perabotan yang Ergonomis
Kemudian,
office ergonomic membahas juga mengenai perabotan yang baik digunakan dalam
sebuah kantor. Untuk sebuah kursi, tinggi kursi dari permukaan lantai hingga
alas duduk harus setinggi lutut, sehingga kaki tidak tertekuk dan terhindar
dari cedera, diperlukan penyangga kaki yang nyaman, agar sesekali pegawai dapat
meluruskan kaki, melakukan peregangan.
Bentuk
lekuk kursi yang sesuai dengan bentuk tulang punggung manusia, sehingga nyaman
pada saat digunakan. Ukuran lebar alas duduk lebih besar dari pinggul, alas
duduk harus empuk dan nyaman pada saat digunakan. Berdasarkan ukuran dan
jangkauan penyesuaian tinggi tempat duduk kursi dibedakan berdasarkan dua
kategori yaitu, 1. Kursi Rendah.
Menurut
Nurmianto (2004) tujuan perancangan kursi ini adalah memberikan kenyamanan pada
kaki untuk beristirahat langsung diatas lantai dan menghindari tekanan pada
sisi bagian bawah paha. Terlalu rendahnya ukuran suatu tempat duduk dapat
menyebabkan pegawai kesemutan yang diakibatkan oleh terhentinya aliran darah
pada kaki yang terlalu berat menahan berat tubuh. 2. Kursi Tinggi, perancangan
kursi ini tujuannya untuk mengurangi tingkat kelelahan yang berlebihan ketika
pekerjaan dilakukan dengan berdiri dalam waktu yang cukup lama. Untuk kursi
jenis ini, sandaran kaki menjadi bagian paling penting mengurangi beban pada
kaki bawah yang dipindahkan pada sisi dalam dari lipat paha.
Adapun
hal-hal yang perlu diperhatikan agar pemilihan kursi sesuai dan ergonomis
yaitu,
1. Pilihlah kursi
yang kuat, periksalah bahwa kursi terbuat dari bahan yang kuat, misalnya
terbuat dari logam atau kayu jati. 2. Memiliki roda minimal 4 buah, gunakanlah
kursi yang sekurang-kurangnya memiliki 4 kaki atau lebih dan bila memiliki
roda, periksalah bahwa rodanya cukup koko menahan beban dan tidak mudah
tergelincir.
3. Adjustable
(mudah dinaik-turunkan), ketinggian kursi kerja sebaiknya mudah diatur dan
tidak perlu turun dari kursi untuk mengaturnya.
4. Memiliki
sandaran yang fleksibel.
5. Fungsional,
Bentuk kursi sesuai dengan fungsinya dan tidak mengganggu keluwesan waktu
bekerja.
6. Alas yang
lunak, Tempat duduk dan sandaran punggung dilapisi dengan material yang lunak
dan memudahkan sirkulasi udara pada alat duduknya. Akan lebih baik apabila
lapis duduk atau sandaran terbuat dari bahan kain berlapis.
7. Lebar kursi
sesuai, lebar kursi minimal sama dengan lebar pinggul.
Untuk
meja pegawai, untuk seorang juru tulis diperlukan meja yang dapat digunakan
untuk dua macam kegiatan yaitu mengetik komputer atau mesin tik dan menulis. Jadi
untuk meja kerja sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan pegawai berdasarkan
pekerjaannya.
Geoffrey
Mills pada tahun 1991 merekomendasikan ukuran meja kerja yang sesuai untuk
seorang juru tulis memiliki ukuran bagian atas sebesar 1,2-1,5 meter (4-5 kaki)
kali 0,75 meter (2 kaki 6 inci). Dengan tinggi bagian atas meja sebesar 0,724
meter (2 kaki 4,5 inci) dari lantai untuk memberikan posisi kerja yang nyaman.
Untuk pegawai yang menggunakan komputer akan memerlukan permukaan yang lebih
rendah beberapa inci sehingga memudahkan aktivitas dalam menggunakan keyboard
yang terletak pada tingkat yang tepat.
Untuk
membuat tubuh bagian atas lebih rileks, duduklah dipinggir kursi, pegang
sandaran kursi dengan kedua tangan. Luruskan lengan dan tangan anda. Tarik
tubuh bagian atas dalam posisi lurus ke depan untuk meregangkan bahu, punggung
atas dan dada. Untuk melenturkan bahu dan punggung duduklah dengan tegak,
pegang bantalan kursi dengan kedua tangan. Angkat kaki kanan setinggi lutut,
tahan sebentar, turunkan.
Ulangi
gerakan ini untuk kaki kiri. Untuk melenturkan otot leher, tariklah leher anda
secara perlahan ke arah pundak kanan, tahan. Ulangi gerakan ini ke arah pundak
kiri. Gerakan leher ke arah kanan, tahan, lalu kembali ke depan. Ulangi gerakan
ini ke arah kiri. Ulangi setiap gerakan sebanyak lima kali.
Untuk
barang elektronik seperti komputer perlu dipilih komputer yang ergonomis dimana
ukuran, keyboard dapat memberikan kenyamanan bagi pengguna. Salah satu cara
sederhana untuk membuat layar monitor lebih baik adalah dengan mengatur
resolusi yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan sehingga tidak akan
menyilaukan mata. Kemudian, mouse diletakkan tidak terlalu jauh dari keyboard.
1.8 Akibat Tidak Menerapkan Office Ergonomic
Office
ergonomis sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan pegawai. Berbagai
kondisi tubuh, kelainan dan penyakit dapat terjadi apabila kita tidak
memperhatikan office ergonomic.Berikut ini merupakan gejala yang dapat terjadi
yang memberitahukan bahwa perabotan maupun lingkungan kantor belum terlaksana
secara ergonomi :
Nurmianto
(2004), kelelahan merupakan kondisi dimana tubuh mengalami kehabisan energi
karena perpanjangan kerja yang dilakukan. Kelelahan sering muncul pada jenis
pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang atau monoton. b. Suma’mur
(2009), kelelahan merupakan kondisi yang menunjukkan keadaan tubuh baik fisik
maupun mental yang semuanya berakibat pada penurunan daya kerja serta ketahanan
tubuh.
Kelelahan merupakan akibat dari perilaku dalam
bekerja yang tidak ergonomic, misalnya memaksakan kerja tubuh untuk melakukan
pekerjaan berjam-jam dihadapan komputer, melaksanakan pekerjaan tanpa merubah
posisi dan bekerja tanpa aturan.
Menurut
Suma’mur (2009) dan Tarwaka (2014), kelelahan dapat dibedakan menjadi 2 (dua)
kelompok, yaitu:
1. Kelelahan
menurut proses
a. Kelelahan otot,
merupakan kelelahan yang ditandai dengan kondisi tremor atau perasaan nyeri
pada otot. Kelelahan ini terjadi karena penurunan kapasitas otot dalam bekerja
akibat dari kontraksi yang berulang, baik karena gerakan yang statis maupun
dinamis. Sehingga seseorang tampak kehilangan kekuatannya untuk melakukan
pekerjaan.
b. Kelelahan umum,
merupakan kelelahan yang ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja
karena pekerjaan yang monoton, intensitas, lama kerja, kondisi lingkungan,
sesuatu yang mempengaruhi mental, status gizi, dan status kesehatan.
2. Kelelahan
menurut waktu
a. Kelelahan akut,
merupakan kelelahan yang ditandai dengan kehabisan tenaga fisik dalam melakukan
aktivitas, serta akibat beban mental yang diterima saat bekerja. Kelelahan ini
muncul secara tiba-tiba karena organ tubuh bekerja secara berlebihan.
b. Kelelahan
kronis, juga disebut dengan kelelahan klinis yaitu kelelahan yang diterima
secara terus-menerus karena faktor atau kegiatan yang dilakukan berlangsung
lama dan sering. Kelelahan ini sering terjadi sepanjang hari dalam jangka waktu
yang lama, serta kadang muncul sebelum melakukan 9 pekerjaan dan menimbulkan
keluhan seperti sakit kepala, sulit tidur, hingga masalah pencernaan.
Gejala
kelelahan Daftar gejala-gejala kelelahan atau perasaan yang berhubungan dengan
kelelahan menurut Suma’mur (2009):
Tabel 2.1
Gejala-gejala Kelelahan
|
Gejala
Kelelahan
|
|
|
1.
Perasaan
berat di kepala
|
16. Cenderung untuk
mudah lupa
|
|
2.
Lelah
diseluruh badan
|
17. Kurang
kepercayaan
|
|
3.
Kaki
terasa berat
|
18. Cemas terhadap
sesuatu
|
|
4.
Sering
menguap
|
19. Tidak mampu
mengontrol sikap
|
|
5.
Pikiran
terasa kacau
|
20. Tidak bisa
tekun dalam melakukan pekerjaan
|
|
6.
Mudah
mengantuk
|
21. Sakit kepala
|
|
7.
Terasa
berat pada mata
|
22. Kaku pada bahu
|
|
8.
Kaku
dan canggung dalam gerakan
|
23. Nyeri pada
punggung
|
|
9.
Tidak
seimbang dalam berdiri
|
24. Pernafasan
terasa tertekan
|
|
10. Mau berbaring
|
25. Haus
|
|
11. Sulit Berfikir
|
26. Suara serak
|
|
12. Lelah bicara
|
27. Merasa pening
|
|
13. Menjadi gugup
|
28. Spasme pada
kelopak mata
|
|
14. Tidak mampu berkonsentrasi
|
29. Tremor pada
anggota badan
|
|
15. Tidak dapat memusatkan perhatian terhadap
sesuatu
|
30. Merasa kurang
sehat
|
Sedangkan
gejala-gejala kelelahan menurut Nurmianto (2004) hanya terdiri atas empat
gejala, yaitu: 1. Rasa letih, lelah, lesu, dan lemah (4L)
2. Mengantuk
3. Motivasi kerja
menurun
4. Rasa pesimis
Antropometri
berasal dari kata antropos dan metricos. Antropos berarti manusia dan metricos
berarti ukuran. Antropometri adalah ukuran – ukuran tubuh manusia secara
alamiah baik dalam melakukan aktivitas statis (ukuran sebenarnya) maupun dinamis
(disesuaikan dengan pekerjaan) (Wignjosoebroto, 2003).
Antropometri
adalah ilmu yang berhubungan dengan pengukuran dimensi dan karakteristik tubuh
manusia lainnya seperti volume, pusat gravitasi dan massa segmen tubuh manusia.
Ukuran – ukuran tubuh manusia sangat bervariasi, bergantung pada umur, jenis
kelamin, ras, pekerjaan dan periode dari masa ke masa. Pengukuran dimensi –
dimensi tubuh manusia merupakan bagian yang terpenting dari antropometri karena
akan menjadi data dasar untuk mempersiapkan desain berbagai peralatan, mesin,
proses dan tempat kerja (Harrianto, 2008).
Ukuran tubuh yang
penting untuk penerapan ergonomi, yaitu :
1. Pada sikap
berdiri : tinggi badan berdiri, tinggi mata, tinggi bahu, tinggi siku, tinggi
pinggul, tinggi pangkal jari tangan, tinggi ujung – ujung jari.
2. Pada sikap
duduk : tinggi duduk, tinggi posisi mata, tinggi bahu, tinggi siku, tebal paha,
jarak bokong – lutut, jarak bokong – lekuk lutut, tinggi lutut, lebar bahu,
lebar pinggul (Harrianto, 2008).
Sikap duduk paling
baik yang tidak berpengaruh buruk terhadap sikap badan dan tulang belakang
adalah sikap duduk dengan sedikit lardosa pada pinggang dan sedikit mungkin
kifosa pada punggung (Suma’mur, 1989).
Kelelahan hanya
merupakan salah satu dari kondisi akibat lingkungan yang tidak ergonomis,
hal-hal lain yang dapat terjadi adalah penyakit osteoporosis yaitu pengeroposan
tulang, persendian kaku hingga pembengkokkan tulang belakang.
Empat belas faktor sekitar nyeri punggung
1. Nyeri Punggung.
Meskipun test dan
prosedure yang ada sudah canggih, ahli punggung modern menyatakan lebih dari 80
persen dari semua kasus tidak jelas penyebab fisiogis.
2. Meskipun segala hal tentang nyeri
punggung kita ketahui, sembilan puluh persen dari kita akan menjadi cacat pada
suatu saat
3. Sulit untuk menentukan kriteria
individu yang bagaimana yang cenderung mengalami nyeri punggung.
Kekuatan,
kebugaran, dan hasil x-rays punggung bukanlah prediktor (penentu) yang
baik. Suatu studi menyimpulkan bahwa
hanya prediktor: 1) apakah orang tersebut pernah menderita sakit punggung
sebelumnya,dan 2) apakah orang tersebut perokok.
4. Di sisi lain, karateristik pekerjaan
adalah prediktor nyeri punggung.
Pekerjaan-pekerjaan yang berat atau sering mengangkat memiliki
resiko tinggi penyebab nyeri punggung, sama halnya dengan pekerjaan yang
dilakukan dengan berdiri atau duduk dalam waktu yang panjang.
5. Ketepatan bagaimana mengangkat dengan
sedikit resiko.
Mengangkat dengan
punggung adalah mudah, tetapi sulit dengan menggunakan otot. Mengangkat dengan
punggung memindahkan beban yang dapat mengurangi keletihan.
6. Pengikat punggung tidak miningkatkan
kekuatan punggung atau bahkan penyebab penyakit punggung.
Di satu sisi,
pengikat punggung membantu penggunanya untuk mengangkat beban dengan
hati-hati. Di sisi lain, dapat
memberikan salah pengertian bagi pemakainya, mendorong mereka untuk mengangkat
lebih banyak beban dari yang seharusnya.
7. Orang yang duduk untuk jangka waktu
yang lama beresiko penyakit punggung
Dua penyebab
terbesar adalah: 1) duduk tegak lurus atau condong ke depan, dan 2) tidak
merubah posisi.
8. Postur tegak lurus dengan posisi
pinggul 90 derajat adalah tidak sehat,
Kursi-kursi
sebaiknya mampu menyangga posture, dengan penyangga punggung dengan berbagai
tingkat ketinggian dan posisi pinggul
9. Duduk dengan postur bersandar lebih
sehat daripada duduk tegak lurus. Hal ini disebabkan duduk bersandar lebih
meletakan berat badan pada sandaran kursi.
Bila sandaran kursi mampu menahan lebih banyak beban, bagian belakang
bawah hanya menahan sedikit beban.
Disain yang baik untuk tempat lengan juga meringankan beban badan bagian
atas. Dan tempat duduk dengan sandaran membuat otot punggung relaks.
10. Orang yang duduk harus dapat bergerak.
Agar membantu otot
relaks dan pulih, hal ini memungkinkan memberikan tekanan dan kelonggaran
secara bergantian pada aliran darah, sehingga lebih sehat. Implikasinya:
kursi harus dapat mengikuti gerakan orang yang duduk.
11. Yang paling penting adalah kursi harus
dapat disesuaikan
• Ketinggian tempat duduk dari
lantai—kaki harus dapat istirahat dengan rata di atas lantai. (namun demikian,
hal ini bukan berarti kaki harus selalu rata di atas lantai. Kaki harus dapat bebas bergerak berganti
posisi).
• Kedalamam dari depan tempat duduk
untuk bersandar—orang yang duduk harus dapat bersandar.
• Dapat disesuaikan dengan tinggi
badan—setiap orang memiliki tinggi badan yang berbeda.
12. Kursi dengan penyesuaian yang tepat dan
postur kursi sangat dipengaruhi oleh area kerja
Secara khusus,
mata akan mempengaruhi postur, khususnya jika material pekerjaan terlalu jauh,
rendah, atau tinggi. Posisi tangan ( khususnya pekerjaan yang jauh dari badan)
dapat juga mempengaruhi posisi tubuh, khususnya postur bagian punggung atas dan
leher.
13. Ketidak nyamanan punggung bagian atas dan
leher sering berhubungan dengan angle penglihatan ke arah atas.
Sebagai contoh,
monitor yang berada di atas ketinggian mata atau sandaran, (contohnya, melihat
ke bawah dan samping pada sebuah dokumen di atas meja, atau meraih mouse).
14. Bagi orang dengan penderita sakit
punggung bawaan, kronik, dan parah: peraturan-peraturan di atas adalah
opsional, karena setiap kasus sakit punggung penangannya adalah berbeda.
Aturan-aturan
pencegahan penyakit punggung atau treatment kasus level menengah mungkin tidak
tepat untuk beberapa kasus sakit punggung. Sebelum menerima saran, percayalah pada “tanda” reaksi ketidak nyamanan tubuh
anda.
DAFTAR PUSTAKA
Gie,The Liang .1998. Ensiklopedia Administrasi. Jakarta
Gunung Agung.
Keeling, Kallaus. 1987. Administrative Office Management Ninth
Edition. Ohio. South-Western Publishing Co.
Komaruddin. 1981. Menejemen Kantor. Teori dan Praktik. Bandung.
Sinar Baru.
Kroemer, Karl H.E., Kroemer, Anne
D. 2001. Office Ergonomics, New York, Taylor & Francis.
Nurmianto, Eko. 2004.
Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasi, Edisi
ke-2. Surabaya. Guna Widya..
Pile, John F. 1978. Open Office Planning : A Handbook for
Interior Designer and Architects. New York. Whitney library of design.
Quible, Zane K. 1984. Administrative Office Management an Introduction, third Edition. Virginia.
Reston Publishing Company Inc.
Santoso, G. 2004. Ergonomi Manusia,
Peralatan dan Lingkungan. Prestasi Pustaka Publisher. Jakarta
Sugandha. Dann. 1986. Menejemen Administrasi.
Suatu Pendekatan Sistem Dalam Menejemen Perkantoran. Bandung. Sinar Baru.
Suma’mur. 1989. Ergonomi Untuk Produktivitas Kerja. Jakarta. CV Haji Masaagung.
Wignjosoebroto, Sritomo. (2003). Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan.
Edisi ke-3. Surabaya. Guna Widya