Kamis, 16 Juni 2016

MANAJEMEN KANTOR : OFFICE ERGONOMIC


MENATA RUANG KANTOR SECARA ERGONOMIS DAN DAMPAK RUANG KANTOR YANG TIDAK ERGONOMIS

Oleh :
Anisa
Jurusan Administrasi Niaga, Program Studi D3 Administrasi Bisnis 2a
Politeknik Negeri Bandung
Dosen Pembimbing :
Dra. Sholihati Amalia, S.Sos., M.Pd

Abstrak
In an organization , the employee is an asset that is important because employee productivity is a driving factor for the organization, so the organization can achieve its objectives . Ergonomic the study of relationship of employees to their physical environment, is helpful in designing an effective environment to be able to work optimally , the employee need comfortable room. Light, air , color and sound is one component that could affect the office environment .
Ergonomic is the one important thing in the office, because it is can be design a good environment, and make the employee get motivation. But, if the office and the employee still careless with office ergonomic,  There are some condition that will give effect to the employee. The employee can be hurt in some part of bodu, employees can experience fatigue continuously over a long period, spinal cord injury, to osteoporosis.



1.1 Definisi Kantor
Menurut Paul Mahieu Kantor adalah tempat dalam suatu badan usaha dimana dilaksanakan pekerjaan administratif (tata usaha) yang dapat dilakukan dengan mesin atau tangan. (The Liang Gie 105).
Sedangkan Menurut Glen W. Howard kantor adalah pusat dari kegiatan administrasi (tata usaha) dan berperan sebagai suatu kamar kerja dan belajar, suatu ruang rapat, suatu tempat perundingan, suatu pusat penerangan,suatu pusat pemberian pelayanan, suatu kamar untuk berkas-berkas, suatu ruang perjamuan dan seringkali suatu lambang darikedudukan. (The Liang Gie 105).
Dari kedua definisi tersebut, dijelaskan bahwa kantor merupakan suatu tempat untuk mengerjakan pekerjaan tata usaha.
Pekerjaan tata usaha merupakan pekerjaan yang rutin dilaksanakan dalam suatu organisasi. Setiap hari para administrator, pegawai tata usaha mengerjakan pekerjaan tersebut berulang-ulang, sementara banyak sekali aspek keselamatan yang terabaikan dikarenakan kurangnya pengetahuan akan cara bekerja yang baik untuk kesehatan. Oleh karena itu diperlukan disiplin ilmu yang membahas tentang cara-cara untuk bekerja dengan berdasarkan prinsip kesehatan dan keselamatan pegawai, yaitu office ergonomic.
                 
1.2 Ergonomi
Istilah ergonomi berasal dari bahasa latin yaitu ergon (kerja) dan nomos (hukum
alam) sehingga dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam
lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering,
manajemen dan desain/perancangan  (Pile, John F. 1978).
Dalam perkembangannya, Istilah ergonomi berasal dari bahasa Latin yaitu ergon (kerja) dan nomos (hukum alam) dan dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek - aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain perancangan.
Hal-hal penting lainnya yang tercakup dalam office ergonomi adalah optimasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan manusia di tempat kerja. Di dalam ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem dimana manusia, fasilitas kerja dan lingkungannya saling berinteraksi dengan tujuan utama yaitu menyesuaikan suasana kerja dengan manusianya (Nurmianto, 2004).

Salah satu ahli yang membahas ergonomi adalah Quible, dalam bukunya ia mengatakan “Ergonomic the study of relationship of employees to their physical environment, is helpful in designing an effective environment” (Quible, 1984: 122)
Ergonomi membahas bagaimana hubungan antara pewagai dengan lingkungan fisik dapat mempengaruhi dan menciptakan lingkungan yang efektif untuk bekerja. Seperti kita ketahui bahwa pegawai akan merasa nyaman apabila perabotan, perlengkapan dan layout kantor ditata sedemikian rupa sehingga dapat memberikan kenyamanan dan keleluasaan dalam bekerja sehingga timbulah kecintaan akan pekerjaan yang dilaksanakannya.
Kemudian, Kallaus dan Keeling menyatakan bahwa ergonomic is the science that explains the relationship of workers to the physiological and psychological factor in their environment (1987:403-404). Ergonomi berhubungan juga dengan ilmu sains dan faktor psikologi yang mempengaruhi lingkungan bekerja.
Dan menurut Suma’mur (1988) menyatakan bahwa ergonomi itu dimaksudkan untuk mencapai produktivitas dan efisiensi setinggi-tingginya melalui pemanfaatan faktor manusia seoptimal-optimalnya.

1.3 Peranan Penting Office Ergonomic
Organisasi memerlukan pencapaian tujuan yang sebaik-baiknya agar tetap dapat bertahan dan kelangsungan hidupnya terjaga, oleh karena itu produktivitas pegawai menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Dengan meningkatnya produktivitas pegawai, perusahaan dapat mencapai tujuan, menjalankan misi dan memperoleh profit, yang meningkatkan eksistensi organisasi, bahkan meningkatnya penghasilan didalam negeri.
Hal inilah yang menjadi dasar bahwasannya ergonomi sangatlah penting, karena dapat meningkatkan produktivitas dan semangat kerja karyawan. Adapun peranan penting lainnya yang dapat diperoleh apabila sebuah kantor telah menerapkan office ergonomic tercantum dalam sebuah buku yang mengatakan, Nurmianto (2004), peranan penerapan ergonomi antara lain :
 a. Aktivitas rancang bangun (desain) ataupun rancang ulang (re-desain). Hal-hal yang dimaksud dengan suatu aktivitas rancang bangun misalnya perkakas kerja (tools), bangku kerja (benches), platform, kursi, pegangan alat kerja (workholders), sistem pengendali (controls), alat peraga (displays), jalan/lorong (access ways), pintu (doors), jendela (windows) dan lain – lain.
 b. Desain pekerjaan pada suatu organisasi. Contohnya, menentukan jumlah jam istirahat, pemilihan jadwal pergantian waktu kerja (shift kerja).
 c. Meningkatkan faktor keselamatan dan kesehatan pegawai dalam bekerja. Contohnya, mendesain suatu sistem kerja untuk mengurangi rasa nyeri dan ngilu pada sistem kerangka dan otot manusia, desain stasiun kerja untuk alat peraga visual (visual display unit station).
Hal ini dapat mengurangi ketidaknyamanan visual dan postur kerja, desain suatu perkakas kerja (handtools) untuk mengurangi kelelahan kerja, desain suatu peletakan 1 instrumen dan sistem pengendalian agar didapat optimasi dalam proses transfer informasi dan lain – lain.

1.4 Sasaran Ergonomi
Sasaran dari ergonomi yaitu meningkatkan para pengguna agar dapat mencapai prestasi kerja yang tinggi dalam kondisi yang nyaman, aman dan tenteram. Adapun lingkup kajian ergonomi dapat dikelompokkan dalam 4 bidang lingkup kajian, yaitu
1.         Display.
Display adalah alat yang menyajikan informasi tentang lingkungan yang dikomunikasikan dalam bentuk tanda-tanda atau lambang-lambang.  Display terbagi menjadi 2 bagian, yaitu display statis dan display dinamis. 
Display statis adalah display yang memberikan informasi tanpa dipengaruhi oleh variabel waktu, misalnya peta, papan pengumuman.  Sedangkan display dinamis adalah display yang dipengaruhi oleh variabel waktu, misalnya speedometer yang memberikan informasi kecepatan kendaraan bermotor dalam setiap kondisi.
2.         Kekuatan fisik manusia (Fisiologi).
Penelitian ini mencakup mengukur kekuatan/daya fisik manusia ketika bekerja dan mempelajari bagaimana cara kerja serta peralatan harus dirancang agar sesuai dengan kemampuan fisik manusia ketika melakukan aktifitas tersebut. Penelitian ini merupakan bagian dari biomekanik.
3.         Ukuran/dimensi dari tempat kerja (antropometri).
Penelitian ini diarahkan untuk mendapatkan ukuran tempat kerja yang sesuai dengan ukuran tubuh manusia, dipelajari dalam antropometri.
4.         Lingkungan fisik.
Penelitian ini berkenaan dengan perancangan kondisi lingkungan fisik dari ruangan dan fasilitas-fasilitas dimana manusia bekerja. Hal ini meliputi perancangan cahaya, suara, warna, temperatur, kelembaban, bau-bauan dan getaran pada suatu fasilitas kerja.
Misalnya dalam perancangan produk suatu Handphone. Dengan memperhatikan faktor-faktor ergonomi maka hasil perancangan akan mengarah kepada kenyamanan dalam menggunakannya. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam perancangan handphone agar ergonomi yaitu:
1.         Penggunaan display layar, warna keypad, warna handphone sehingga memudahkan pembacaan dan tidak melelahkan mata.
2.         Perancangan dimensi handphone sehingga ukuran menyesuaikan dengan ukuran standar manusia.
3.         Perancangan berat handphone sehingga tidak melelahkan manusia saat dibawa.
4.         Desain ukuran keypad sehingga memudahkan jari-jari kita untuk navigasi.
5.         Penggunaan sistem operasi yang ada didalamnya sehingga memudahkan orang dalam menggunakannya.
Penerapan ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas desain ataupun redesain. Ergonomi dapat berperan pula dalam desain pekerjaan pada suatu organisasi misalnya: penentuan jumlah jam istirahat, pemilihan jadwal pergantian waktu kerja (shift kerja) dan meningkatkan variasi pekerjaan.
Agar dapat menghasilkan rancangan sistem kerja yang baik perlu dikenal sifat-sifat, keterbatasan serta kemampuan yang dimiliki manusia.  Dalam sistem kerja, manusia berperan sentral yaitu sebagai perencana, perancang, pelaksana dan pengevaluasi sistem kerja yang bekerja secara keseluruhan agar diperoleh hasil kerja yang baik atau memuaskan.
Office ergonomic juga disebut Human Factors atau Human Engineering (di United States),   bersifat netral, tidak melihat dari sisi majikan atau dari sisi karyawan. Bukan sebuah philosophy, tetapi sebagai suatu disiplin ilmu dan teknologi (Karl , 2001: 1).
Ergonomics dapat membuat objek sederhana seperti penyerut pensil, keyboard atau telepon menjadi ramah dan mudah digunakan.  Sistem transportasi umum, pabrik, perusahaan—dalam mendisain lampu-lampu/sistem pencahayaan yang disesuaikan dengan berbagai  level atau fungsi dan tanggung jawab pegawai.
Dengan demikian Egonomi berguna sebagai media pencegahan terhadap kelelahan kerja sedini mungkin sebelum berakibat kronis dan fatal.
Manusia sebagai unsur utama di Kantor. Kantor adalah suatu sistem kerja yang sangat tergantung pada unsur manusia: tanpa manusia, mustahil suatu pekerjaan dapat dilakukan.  Dengan demikian, ergonomi difokuskan pada manusia sebagai komponen yang paling penting di dalam kantor dan menyesuaikan kantor dengan orang-orang yang ada di dalamnya. 
Perancangan yang memfokuskan pada manusia ini membutuhkan pengetahuan tentang karakteristik dari orang-orang di kantor, khususnya tentang dimensi-dimensi mereka, kemampuan mereka, dan keinginan mereka. 

1.5 Disain tempat kerja
Ergonomics mencakup disain tempat kerja dan pekerjaan yang disesuaikan dengan kebutuhan fisik dan psykologis penggunanya.  Secara sederhana, adalah menciptakan pekerjaan dan lingkungan untuk membuat orang yang bekerja di dalamnya menjadi lebih nyaman.  Tujuan dari ergonomics adalah memaksimalkan kualitas waktu kerja dan meminimalkan terjadinya “cedera otot” dalam kerja.
Komponen utama dari  kantor meliputi meja, kursi dan peralatan yang digunakan untuk mengerjakan pekerjaan kantor, bahkan lebih sering lagi komputer. 
Pada waktu mendisain suatu tempat kerja, yang penting adalah untuk mempertimbangkan tugas-tugas apa yang harus dikerjakan, dan tipe peralatan yang digunakan.  Fleksibilitas adalah kunci di dalam mendisain tempat kerja.
Disain tempat kerja mempengaruhi posture orang pada waktu dia bekerja. Oleh karena itu, tempat kerja harus didisain agar orang berada pada posisi yang memungkinkan dia melakukan pekerjaan dengan nyaman.
Sebuah penelitian terkini yang dilakukan Singapore General Hospital tentang banyaknya terjadi “ cedera otot” atau MSD (musculoskeletal disorders)  diantara karyawan kantor di Singapore, ditemukan sebanyak 73% dari 324 respondents melaporkan mengalami rasa nyeri paling sedikit pada salah satu bagian  tubuh. Bagian tubuh yang paling banyak dilaporkan mengalami nyeri adalah bagian leher (46%), bahu (42%) dan bahu belakang (42%). MSD lebih banyak dirasakan oleh wanita  (79%) dibandingkan pria (64%).
Lingkungan fisik memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap efisiensi perkantoran maka diperlukan suatu petunjuk yang mampu melakukan identifikasi. Ergonomi merupakan jawaban untuk menyusun lingkungan kerja yang kondusif.

1.6 Komponen Office Ergonomic   
Dalam mempelajari office ergonomic, terdapat beberapa komponen yang akan mempengaruhi apakah suatu ruang kantor telah memiliki kriteria ergonomis. Berikut ini merupakan komponen-komponen dalam office ergonomi : (1) cahaya, (2) udara, (3) warna, (4) suara
Cahaya merupakan faktor penting dalam office ergonomic, cahaya yang baik dapat mempermudah pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ketelitian tinggi. Namun disisi lain, sistem pencahayaan yang buruk dapat mengakibatkan kerusakkan pada mata pegawai, kelelahan mata, bahkan perasaan enggan untuk bekerja.
Pencahayaan yang kurang baik dapat membuat pekerjaan terhambat, karena sulitnya untuk melihat dan menafsirkan data yang dimiliki Berikut ini merupakan intensitas cahaya yang cukup untuk berbagai jenis pekerjaan.
Kuantitas cahaya menunjukkan besarnya kebutuhan penyinaran untuk tiap-tiap jenis pekerjaan yang diukur dengan satuan footcandle.
Footcandle merupakan banyaknya cahaya yang dipancarkan dari sebuah lilin ukuran biasa pada sebuah benda yang jaraknya satu kaki dari lilin itu atau kurang lebih 30,48 centimeter (The Liang Gie, 1998).
Cahaya sangat penting bagi pekerjaan kantor mengingat aktivitas di dalamnya banyak menggunakan pikiran dan mata yang luas. Cahaya yang baik harus dapat disiapkan agar menghasilkan informasi yang memenuhi syarat Cahaya yang baik memenuhi kebutuhan tuntutan pekerjaan baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Kedua aspek cahaya ini dapat


Tabel 1
Klasifikasi Pekerjaan Kantor & Kebutuhan Jumlah Cahaya
No
Jenis Aktivitas Kantor
Footcandle
1
Pekerjaan Dengan Penglihatan Sederhana
10-20
2
Pekerjaan Dengan Penglihatan Sepintas Lalu
20-30
3
Pekerjaan Dengan Penglihatan Biasa
50-100
4
Pekerjaan Dengan Penglihatan Tajam
100-200
Sumber : The Liang Gie, 1998


Komponen kedua dalam office ergonomic adalah udara. Udara yang sesuai dapat meningkatkan produktivitas dan kesehatan. Udara dapat mengalami perubahan di setiap bulan. Beberapa bulan di Indonesia misalnya bulan Maret adalah musim kemarau, sehingga angin berhembus namun curah hujan tidak begitu tinggi.
Namun, di musim hujan, kelembaban udara tentunya perlu diperhatikan. Kelembaban udara yang tinggi dapat meningkatkan kemungkinan pegawai terkena penyakit flu dan jenis penyakit lainnya. Flu yang menyerang dapat menghambat tugas-tugas dan tanggung jawab yang dibebankan apabila pegawai tersebut tidak bekerja. Udara yang baik perlu disesuaikan dengan suhu tubuh manusia, yaitu tidak lebih dari 27 derajat. Dapat dilakukan dengan menjaga sirkulasi udara melalui ventilasi dan jendela.
Kemudian pada musim panas dapat digunakan air conditioner untuk menurunkan suhu ruangan, sehingga cuaca panas tidak akan mengganggu rutinitas.
Kemudian pada musim hujan, kelembaban udara dapat mencapai 100%. Angka ini cukup tinggi dan menunjukkan kandungan kadar air yang berada disuatu daerah. Kelembaban udara berkaitan dengan curah hujan, angin dan cuaca. Oleh karena itu, diperlukan suatu cara untuk tetap menyesuaikan ruang kantor dengan cuaca yang terjadi.
Kelembaban yang tinggi dapat mengakibatkan penyakit yang berasal dari bakteri, tumbuhnya jamur diruangan kerja. Perabotan yang terbuat dari kayu dapat dengan mudah berjamur dan menjadi lapuk, dinding-dinding yang terkena rembesan air hujan akan mengalami kerusakkan.



Tabel 2
Kelembaban Udara di Indonesia
Daerah
Bulan
Jan-Mar
Apr – Jun
Jul – Sep
Okt-Des
Jakarta
79,58%
77,33%
75,08%
76,92%
Jawa Barat
85,13%
85,23%
81, 33%
85,10%
Sumber : Suma’mur, 1989: 101


Para pekerja lebih rentan terhadap cedera pada lingkungan yang dingin, karena sirkulasi yang melambat, dan mengakibatkan otot-otot dan jaringan lain lebih tegang. Solusi praktis yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan pakaian berbahan wool yang dapat menjaga kehangatan tubuh. Tidak lupa dianjurkan untuk melakukan pemanasan seperti pelatihan peregangan sebelum memulai pekerjaan.
Komponen ketiga dalam office ergonomic adalah warna. Warna dapat mempengaruhi suasana hati pegawai. Suasana hati yang gembira dan bersemangat dapat membuat para pegawai dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik, kerjasama dapat terjalin dan akan timbul komunikasi yang baik antar pegawai maupun dengan atasannya. Warna seringkali digunakan oleh para desainer interior untuk menimbulkan kesan. Contohnya, untuk dapur dapat menggunakan warna orange, karena warna orange dapat meningkatkan nafsu makan. Kemudian untuk perkantoran dapat dilakukan pemilihan warna yang sesuai.
Warna hijau dan putih biasanya digunakan oleh perusahaan yang bergerak dibidang kesehatan dan farmasi, karena dapat memberikan kesan bersih. Kemudian pemilihan warna hitam sebaiknya tidak digunakan untuk dekorasi ruangan kantor dikarenakan dapat mengakibatkan kesan seram, tertekan dan gelisah. Kemudian, untuk kantor-kantor yang memerlukan ide-ide inovatif dan kreatif, maka pemilihan warna yang terang dan beraneka macam dapat meningkatkan ide kreatif para pegawai.


Tabel 3
Warna dan Pengaruhnya
Warna
Sifat
Pengaruh
Untuk Ruang
Merah
Dinamis,
merangsang
Menimbulkan semangat.
Pekerjaan sepintas atau singkat
Kuning
Keanggunan, bebas
Menimbulkan perasaan gembira dan merangsang urat syaraf
Gang-gang, jalan (lorong)
Biru
Tenang, tentram, sejuk
Mengurangi ketekanan/ketegangan
Berpikir konsentrasi
Sumber : Suma’mur, 1989



Komponen keempat office ergonomic adalah suara. Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan kantor terutama di bagian keuangan memerlukan konsentrasi yang tinggi sehingga diperlukan cara-cara untuk meredam suara. Kemudian, ruangan rapat memerlukan ketenangan dan terhindar dari kebisingan, karena pada saat rapat, para pemimpin perusahaan diharuskan untuk mengambil keputusan demi kelancaran organisasinya maupun meningkatkan omset penjualannya.
Salah satu cara yang dapat diguanakan untuk meredam kebisingan adalah dengan menggunakan perabotan berbahan dasar seperti kayu dan tergolong barang yang berat, memasang dinding peredam kebisingan, memasang karpet pada dinding, memilih lokasi kantor yang jauh dari kebisingan misalnya kebisingan pasar, jalan raya dan terminal.
            Kebisingan dapat mengakibatkan terganggunya konsentrasi, ketegangan dan menyebabkan stress, terlebih lagi jika dialami secara terus menerus. Melemahnya pendengaran dapat mengindikasikan tingkat kebisingan yang tinggi. Jika kantor anda sangat dekat dengan sumber bising, maka hal yang perlu dilakukan adalah meredam suara bising tersebut, dapat dilakukan dengan mengubah struktur bangunan, menggunakan peredam seperti soft box atau karpet. Namun, adapun hal sederhana yang dapat anda lakukan sendiri, yaitu dengan menutup pintu ruang kerja, atau menggunakan penyumbat telinga atau ear plug untuk meredam kebisingan.



Tabel 4
Tingkat Kebisingan Ruang
Decible
Office Area
90
Loud Office machines room
70
Noisy office
50
Average office
30
Quiet office
10
Sound proof office
Sumber : Quible, 1984: 132


1.7 Perabotan yang Ergonomis
Kemudian, office ergonomic membahas juga mengenai perabotan yang baik digunakan dalam sebuah kantor. Untuk sebuah kursi, tinggi kursi dari permukaan lantai hingga alas duduk harus setinggi lutut, sehingga kaki tidak tertekuk dan terhindar dari cedera, diperlukan penyangga kaki yang nyaman, agar sesekali pegawai dapat meluruskan kaki, melakukan peregangan.
Bentuk lekuk kursi yang sesuai dengan bentuk tulang punggung manusia, sehingga nyaman pada saat digunakan. Ukuran lebar alas duduk lebih besar dari pinggul, alas duduk harus empuk dan nyaman pada saat digunakan. Berdasarkan ukuran dan jangkauan penyesuaian tinggi tempat duduk kursi dibedakan berdasarkan dua kategori yaitu, 1. Kursi Rendah.
Menurut Nurmianto (2004) tujuan perancangan kursi ini adalah memberikan kenyamanan pada kaki untuk beristirahat langsung diatas lantai dan menghindari tekanan pada sisi bagian bawah paha. Terlalu rendahnya ukuran suatu tempat duduk dapat menyebabkan pegawai kesemutan yang diakibatkan oleh terhentinya aliran darah pada kaki yang terlalu berat menahan berat tubuh. 2. Kursi Tinggi, perancangan kursi ini tujuannya untuk mengurangi tingkat kelelahan yang berlebihan ketika pekerjaan dilakukan dengan berdiri dalam waktu yang cukup lama. Untuk kursi jenis ini, sandaran kaki menjadi bagian paling penting mengurangi beban pada kaki bawah yang dipindahkan pada sisi dalam dari lipat paha.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan agar pemilihan kursi sesuai dan ergonomis yaitu,
1. Pilihlah kursi yang kuat, periksalah bahwa kursi terbuat dari bahan yang kuat, misalnya terbuat dari logam atau kayu jati. 2. Memiliki roda minimal 4 buah, gunakanlah kursi yang sekurang-kurangnya memiliki 4 kaki atau lebih dan bila memiliki roda, periksalah bahwa rodanya cukup koko menahan beban dan tidak mudah tergelincir.
3. Adjustable (mudah dinaik-turunkan), ketinggian kursi kerja sebaiknya mudah diatur dan tidak perlu turun dari kursi untuk mengaturnya.
4. Memiliki sandaran yang fleksibel.
5. Fungsional, Bentuk kursi sesuai dengan fungsinya dan tidak mengganggu keluwesan waktu bekerja.
6. Alas yang lunak, Tempat duduk dan sandaran punggung dilapisi dengan material yang lunak dan memudahkan sirkulasi udara pada alat duduknya. Akan lebih baik apabila lapis duduk atau sandaran terbuat dari bahan kain berlapis.
7. Lebar kursi sesuai, lebar kursi minimal sama dengan lebar pinggul.
Untuk meja pegawai, untuk seorang juru tulis diperlukan meja yang dapat digunakan untuk dua macam kegiatan yaitu mengetik komputer atau mesin tik dan menulis. Jadi untuk meja kerja sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan pegawai berdasarkan pekerjaannya.        
Geoffrey Mills pada tahun 1991 merekomendasikan ukuran meja kerja yang sesuai untuk seorang juru tulis memiliki ukuran bagian atas sebesar 1,2-1,5 meter (4-5 kaki) kali 0,75 meter (2 kaki 6 inci). Dengan tinggi bagian atas meja sebesar 0,724 meter (2 kaki 4,5 inci) dari lantai untuk memberikan posisi kerja yang nyaman. Untuk pegawai yang menggunakan komputer akan memerlukan permukaan yang lebih rendah beberapa inci sehingga memudahkan aktivitas dalam menggunakan keyboard yang terletak pada tingkat yang tepat.
Untuk membuat tubuh bagian atas lebih rileks, duduklah dipinggir kursi, pegang sandaran kursi dengan kedua tangan. Luruskan lengan dan tangan anda. Tarik tubuh bagian atas dalam posisi lurus ke depan untuk meregangkan bahu, punggung atas dan dada. Untuk melenturkan bahu dan punggung duduklah dengan tegak, pegang bantalan kursi dengan kedua tangan. Angkat kaki kanan setinggi lutut, tahan sebentar, turunkan.
Ulangi gerakan ini untuk kaki kiri. Untuk melenturkan otot leher, tariklah leher anda secara perlahan ke arah pundak kanan, tahan. Ulangi gerakan ini ke arah pundak kiri. Gerakan leher ke arah kanan, tahan, lalu kembali ke depan. Ulangi gerakan ini ke arah kiri. Ulangi setiap gerakan sebanyak lima kali.
Untuk barang elektronik seperti komputer perlu dipilih komputer yang ergonomis dimana ukuran, keyboard dapat memberikan kenyamanan bagi pengguna. Salah satu cara sederhana untuk membuat layar monitor lebih baik adalah dengan mengatur resolusi yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan sehingga tidak akan menyilaukan mata. Kemudian, mouse diletakkan tidak terlalu jauh dari keyboard.

1.8 Akibat Tidak Menerapkan Office Ergonomic
Office ergonomis sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan pegawai. Berbagai kondisi tubuh, kelainan dan penyakit dapat terjadi apabila kita tidak memperhatikan office ergonomic.Berikut ini merupakan gejala yang dapat terjadi yang memberitahukan bahwa perabotan maupun lingkungan kantor belum terlaksana secara ergonomi :
Nurmianto (2004), kelelahan merupakan kondisi dimana tubuh mengalami kehabisan energi karena perpanjangan kerja yang dilakukan. Kelelahan sering muncul pada jenis pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang atau monoton. b. Suma’mur (2009), kelelahan merupakan kondisi yang menunjukkan keadaan tubuh baik fisik maupun mental yang semuanya berakibat pada penurunan daya kerja serta ketahanan tubuh.
 Kelelahan merupakan akibat dari perilaku dalam bekerja yang tidak ergonomic, misalnya memaksakan kerja tubuh untuk melakukan pekerjaan berjam-jam dihadapan komputer, melaksanakan pekerjaan tanpa merubah posisi dan bekerja tanpa aturan.
Menurut Suma’mur (2009) dan Tarwaka (2014), kelelahan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu:
1. Kelelahan menurut proses
a. Kelelahan otot, merupakan kelelahan yang ditandai dengan kondisi tremor atau perasaan nyeri pada otot. Kelelahan ini terjadi karena penurunan kapasitas otot dalam bekerja akibat dari kontraksi yang berulang, baik karena gerakan yang statis maupun dinamis. Sehingga seseorang tampak kehilangan kekuatannya untuk melakukan pekerjaan.
b. Kelelahan umum, merupakan kelelahan yang ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja karena pekerjaan yang monoton, intensitas, lama kerja, kondisi lingkungan, sesuatu yang mempengaruhi mental, status gizi, dan status kesehatan.
2. Kelelahan menurut waktu
a. Kelelahan akut, merupakan kelelahan yang ditandai dengan kehabisan tenaga fisik dalam melakukan aktivitas, serta akibat beban mental yang diterima saat bekerja. Kelelahan ini muncul secara tiba-tiba karena organ tubuh bekerja secara berlebihan.
b. Kelelahan kronis, juga disebut dengan kelelahan klinis yaitu kelelahan yang diterima secara terus-menerus karena faktor atau kegiatan yang dilakukan berlangsung lama dan sering. Kelelahan ini sering terjadi sepanjang hari dalam jangka waktu yang lama, serta kadang muncul sebelum melakukan 9 pekerjaan dan menimbulkan keluhan seperti sakit kepala, sulit tidur, hingga masalah pencernaan.
Gejala kelelahan Daftar gejala-gejala kelelahan atau perasaan yang berhubungan dengan kelelahan menurut Suma’mur (2009):


Tabel 2.1
Gejala-gejala Kelelahan
Gejala Kelelahan
1.      Perasaan berat di kepala
16. Cenderung untuk mudah lupa
2.      Lelah diseluruh badan
17. Kurang kepercayaan
3.      Kaki terasa berat
18. Cemas terhadap sesuatu
4.      Sering menguap
19. Tidak mampu mengontrol sikap
5.      Pikiran terasa kacau
20. Tidak bisa tekun dalam melakukan pekerjaan
6.      Mudah mengantuk
21. Sakit kepala
7.      Terasa berat pada mata
22. Kaku pada bahu
8.      Kaku dan canggung dalam gerakan
23. Nyeri pada punggung
9.      Tidak seimbang dalam berdiri
24. Pernafasan terasa tertekan
10.  Mau berbaring
25. Haus
11.  Sulit Berfikir
26. Suara serak
12.  Lelah bicara
27. Merasa pening
13.  Menjadi gugup
28. Spasme pada kelopak mata
14.  Tidak mampu berkonsentrasi
29. Tremor pada anggota badan
15.  Tidak dapat memusatkan perhatian terhadap sesuatu
30. Merasa kurang sehat



Sedangkan gejala-gejala kelelahan menurut Nurmianto (2004) hanya terdiri atas empat gejala, yaitu: 1. Rasa letih, lelah, lesu, dan lemah (4L)
 2. Mengantuk
3. Motivasi kerja menurun
4. Rasa pesimis
Antropometri berasal dari kata antropos dan metricos. Antropos berarti manusia dan metricos berarti ukuran. Antropometri adalah ukuran – ukuran tubuh manusia secara alamiah baik dalam melakukan aktivitas statis (ukuran sebenarnya) maupun dinamis (disesuaikan dengan pekerjaan) (Wignjosoebroto, 2003).
Antropometri adalah ilmu yang berhubungan dengan pengukuran dimensi dan karakteristik tubuh manusia lainnya seperti volume, pusat gravitasi dan massa segmen tubuh manusia. Ukuran – ukuran tubuh manusia sangat bervariasi, bergantung pada umur, jenis kelamin, ras, pekerjaan dan periode dari masa ke masa. Pengukuran dimensi – dimensi tubuh manusia merupakan bagian yang terpenting dari antropometri karena akan menjadi data dasar untuk mempersiapkan desain berbagai peralatan, mesin, proses dan tempat kerja (Harrianto, 2008).
Ukuran tubuh yang penting untuk penerapan ergonomi, yaitu :
1. Pada sikap berdiri : tinggi badan berdiri, tinggi mata, tinggi bahu, tinggi siku, tinggi pinggul, tinggi pangkal jari tangan, tinggi ujung – ujung jari.
2. Pada sikap duduk : tinggi duduk, tinggi posisi mata, tinggi bahu, tinggi siku, tebal paha, jarak bokong – lutut, jarak bokong – lekuk lutut, tinggi lutut, lebar bahu, lebar pinggul (Harrianto, 2008).
Sikap duduk paling baik yang tidak berpengaruh buruk terhadap sikap badan dan tulang belakang adalah sikap duduk dengan sedikit lardosa pada pinggang dan sedikit mungkin kifosa pada punggung (Suma’mur, 1989).


Kelelahan hanya merupakan salah satu dari kondisi akibat lingkungan yang tidak ergonomis, hal-hal lain yang dapat terjadi adalah penyakit osteoporosis yaitu pengeroposan tulang, persendian kaku hingga pembengkokkan tulang belakang.
Empat belas faktor sekitar nyeri punggung
1.         Nyeri Punggung.
Meskipun test dan prosedure yang ada sudah canggih, ahli punggung modern menyatakan lebih dari 80 persen dari semua kasus tidak jelas penyebab fisiogis. 
2.         Meskipun segala hal tentang nyeri punggung kita ketahui, sembilan puluh persen dari kita akan menjadi cacat pada suatu saat
3.         Sulit untuk menentukan kriteria individu yang bagaimana yang cenderung mengalami nyeri punggung.
Kekuatan, kebugaran, dan hasil x-rays punggung bukanlah prediktor (penentu) yang baik.  Suatu studi menyimpulkan bahwa hanya prediktor: 1) apakah orang tersebut pernah menderita sakit punggung sebelumnya,dan 2) apakah orang tersebut perokok.
4.         Di sisi lain, karateristik pekerjaan adalah prediktor nyeri punggung.
Pekerjaan-pekerjaan  yang berat atau sering mengangkat memiliki resiko tinggi penyebab nyeri punggung, sama halnya dengan pekerjaan yang dilakukan dengan berdiri atau duduk dalam waktu yang panjang.
5.         Ketepatan bagaimana mengangkat dengan sedikit resiko.
Mengangkat dengan punggung adalah mudah, tetapi sulit dengan menggunakan otot. Mengangkat dengan punggung memindahkan beban yang dapat mengurangi keletihan.
6.         Pengikat punggung tidak miningkatkan kekuatan punggung atau bahkan penyebab penyakit punggung.
Di satu sisi, pengikat punggung membantu penggunanya untuk mengangkat beban dengan hati-hati.  Di sisi lain, dapat memberikan salah pengertian bagi pemakainya, mendorong mereka untuk mengangkat lebih banyak beban dari yang seharusnya.
7.         Orang yang duduk untuk jangka waktu yang lama beresiko penyakit punggung
Dua penyebab terbesar adalah: 1) duduk tegak lurus atau condong ke depan, dan 2) tidak merubah posisi.
8.         Postur tegak lurus dengan posisi pinggul 90 derajat adalah tidak sehat,
Kursi-kursi sebaiknya  mampu menyangga posture,  dengan penyangga punggung dengan berbagai tingkat ketinggian dan posisi pinggul
9.         Duduk dengan postur bersandar lebih sehat daripada duduk tegak lurus. Hal ini disebabkan duduk bersandar lebih meletakan berat badan pada sandaran kursi.  Bila sandaran kursi mampu menahan lebih banyak beban, bagian belakang bawah hanya menahan sedikit beban.  Disain yang baik untuk tempat lengan juga meringankan beban badan bagian atas. Dan tempat duduk dengan sandaran membuat otot punggung relaks.
10.       Orang yang  duduk harus dapat bergerak.
Agar membantu otot relaks dan pulih, hal ini memungkinkan memberikan tekanan dan kelonggaran secara bergantian pada aliran darah, sehingga lebih sehat.  Implikasinya:  kursi harus dapat mengikuti gerakan orang yang duduk.
11.       Yang paling penting adalah kursi harus dapat disesuaikan
•           Ketinggian tempat duduk dari lantai—kaki harus dapat istirahat dengan rata di atas lantai. (namun demikian, hal ini bukan berarti kaki harus selalu rata di atas lantai.  Kaki harus dapat bebas bergerak berganti posisi).
•           Kedalamam dari depan tempat duduk untuk bersandar—orang yang duduk harus dapat bersandar.
•           Dapat disesuaikan dengan tinggi badan—setiap orang memiliki tinggi badan yang berbeda.
12.       Kursi dengan penyesuaian yang tepat dan postur kursi sangat dipengaruhi oleh area kerja
Secara khusus, mata akan mempengaruhi postur, khususnya jika material pekerjaan terlalu jauh, rendah, atau tinggi. Posisi tangan ( khususnya pekerjaan yang jauh dari badan) dapat juga mempengaruhi posisi tubuh, khususnya postur bagian punggung atas dan leher.
13.       Ketidak nyamanan punggung bagian atas dan leher sering berhubungan dengan angle penglihatan ke arah atas.
Sebagai contoh, monitor yang berada di atas ketinggian mata atau sandaran, (contohnya, melihat ke bawah dan samping pada sebuah dokumen di atas meja, atau meraih mouse).
14.       Bagi orang dengan penderita sakit punggung bawaan, kronik, dan parah: peraturan-peraturan di atas adalah opsional, karena setiap kasus sakit punggung penangannya adalah berbeda.
Aturan-aturan pencegahan penyakit punggung atau treatment kasus level menengah mungkin tidak tepat untuk beberapa kasus sakit punggung. Sebelum  menerima saran, percayalah  pada “tanda” reaksi ketidak nyamanan tubuh anda.



DAFTAR PUSTAKA

Gie,The Liang .1998. Ensiklopedia Administrasi. Jakarta  Gunung Agung.

Keeling, Kallaus. 1987. Administrative Office Management Ninth Edition. Ohio. South-Western Publishing Co.

Komaruddin. 1981. Menejemen Kantor. Teori dan Praktik. Bandung. Sinar Baru.

Kroemer, Karl H.E., Kroemer, Anne D. 2001. Office Ergonomics, New York, Taylor & Francis.

Nurmianto, Eko. 2004. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasi, Edisi ke-2. Surabaya. Guna Widya..

Pile, John F. 1978. Open Office Planning : A Handbook for Interior Designer and Architects. New York. Whitney library of design.

Quible, Zane K. 1984. Administrative Office Management an Introduction, third Edition. Virginia. Reston Publishing Company Inc.

Santoso, G. 2004. Ergonomi Manusia, Peralatan dan Lingkungan. Prestasi Pustaka Publisher. Jakarta

Sugandha. Dann. 1986. Menejemen Administrasi. Suatu Pendekatan Sistem Dalam Menejemen Perkantoran. Bandung. Sinar Baru.

Suma’mur. 1989. Ergonomi Untuk Produktivitas Kerja. Jakarta. CV Haji Masaagung.

Wignjosoebroto, Sritomo. (2003). Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Edisi ke-3. Surabaya. Guna Widya